Munir begitulah ia sering
disapa, Seorang pria sederhana yang bersahaja. Ia adalah seorang tokoh, seorang
pejuang sejati, seorang pembela HAM di indonesia. lahir di Malang, 8 Desember
1965. Ia merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara Said Thalib dan Jamilah. Munir
sempat berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya dan mendapat gelar sarjananya. Selama menjadi mahasiswa, Munir
dikenal sebagai aktivis kampus yang sangat gesit. Ia pernah menjadi Ketua Senat
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya pada tahun 1998, Koordinator
Wilayah IV Asosiasi Mahasiswa Hukum Indonesia pada
tahun 1989, anggota Forum Studi Mahasiswa untuk Pengembangan Berpikir Universitas Brawijaya pada tahun 1988, Sekretaris Dewan Perwakilan Mahasiswa Hukum
Universitas Brawijaya pada tahun 1988, Sekretaris Al-Irsyad cabang Malang pada
1988, dan menjadi anggota Himpunan
Mahsiswa Islam (HMI)
Dalam keseriusannya, Munir
mewujudkan keseriusannya dalam bidang hukum dengan cara melakukan
pembelaan-pembelaan terhadap sejumlah kasus, terutama pembelaannya terhadap
kaum tertindas. Ia juga mendirikan dan bergabung dengan berbagai organisasi,
bahkan juga membantu pemerintah dalam tim investigasi dan tim penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU).
Beberapa kasus yang pernah
ia tangani yaitu pada kasus kasus Marsinah (seorang aktivis buruh) yang
dibunuh oleh militer pada tahun 1994, menjadi penasehat hukum warga Nipah,
Madura, dalam kasus pembunuhan petani-petani oleh militer pada tahun 1993, menjadi penasehat hukum mahasiswa dan petani di Pasuruan,
dalam kasus kerusuhan di PT.Chief Samsung, dengan tuduhan sebagai otak kerusuhan pada tahun 1995,
dan masih banyak lagi kasus yang pernah belia tangani.
Munir adalah sosok pemberani
dan tangguh dalam meneriakkan kebenaran. Ia adalah seorang pengabdi yang
teladan, jujur, dan konsisten. Berkat pengabdiannya itulah, ia mendapatkan
pengakuan yang berupa penghargaan dari dalam negeri dan luar negeri. Di dalam
negeri, ia dinobatkan sebagai Man Of The Year 1998 versi majalah UMMAT, penghargaan Pin Emas sebagai Lulusan UNIBRAW yang sukses,
sebagai salah seorang tokoh terkenal Indonesia pada abad XX, Majalah Forum
Keadilan. Semenatara di luar negeri, ia dinobatkan menjadi As Leader for the
Millennium dari Asia Week pada tahun 2000, The Right Livelihood Award (Alternative Nobel Prizes) untuk promosi HAM dan
kontrol sipil atas militer, Stockholm pada Desember 2000, dan An Honourable Mention of the 2000 UNESCO Madanjeet Singh Prize atas usaha- usahanya dalam
mempromosikan toleransi dan Anti Kekerasan, Paris, November 2000.
Namun na’as pada
tahun 2004 Munir meninggal dunia karena diracuni oleh seseorang. Tiga jam setelah pesawat GA-974 take off dari Singapura,
awak kabin melaporkan kepada pilot Pantun Matondang bahwa seorang penumpang
bernama Munir yang duduk di kursi nomor 40 G menderita sakit. Munir bolak balik
ke toilet. Pilot meminta awak kabin untuk terus memonitor kondisi Munir. Munir
pun dipindahkan duduk di sebelah seorang penumpang yang kebetulan berprofesi
dokter yang juga berusaha menolongnya pada saat itu. Penerbangan menuju
Amsterdam menempuh waktu 12 jam. Namun dua jam sebelum mendarat 7 September
2004, pukul 08.10 waktu Amsterdam di bandara Schipol Amsterdam,
saat diperiksa, Munir telah meninggal dunia.
Pada 20 Desember 2005 Pollycarpus Budihari Priyanto dijatuhi vonis 14 tahun hukuman penjara atas pembunuhan
terhadap Munir. Hakim menyatakan bahwa Pollycarpus, seorang pilot Garuda yang
sedang cuti, menaruh arsenik di makanan Munir, karena dia ingin mendiamkan
pengkritik pemerintah tersebut. Hakim Cicut Sutiarso menyatakan bahwa sebelum
pembunuhan Pollycarpus menerima beberapa panggilan telepon dari sebuah telepon
yang terdaftar oleh agen intelijen senior, tetapi tidak menjelaskan lebih
lanjut. Jenazahnya dimakamkan di taman makam umum kota Batu. Ia meninggalkan
seorang istri bernama Suciwati dan dua orang anak, yaitu Sultan Alif Allende dan Diva.
Sejak tahun 2005, tanggal kematian Munir, 7 September, oleh para aktivis HAM
dicanangkan sebagai Hari Pembela HAM Indonesia.
Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Munir_Said_Thalib

Komentar
Posting Komentar